PERTEMUAN TEKNIS PENGOLAHAN KARET DI KECAMATAN MARANGKAYU

TENGGARONG. Dinas perkebunan Provinsi (satker 05) melalui kegiatan Kegiatan Pengadaan Alat  Pasca Panen    Tahun Anggaran 2019 bekerja sama dengan Dinas Pekebunan Kabupaten Kutai Kartanegara mengadakan pertemuan Teknis pengolahan karet di Desa Prangat selatan Kecamatan Marang kayu yang dilaksanakan di Balai Pertemuan Umum Desa Prangat Selatan.

Pertemuan teknis pengolahan karet tersebut menghadirkan petani dari 3 (tiga) kelompok Tani yang ada di Desa Prangat Selatan yaitu: Kelompok Tani Karya Bhakti, Kelompok Tani Karya Tani dan Kelompok Tani Sido Makmur yang keseluruhannya berjumlah 75 orang, juga dihadiri Kepala Desa dan prangkat Desa Prangat Selatan dan Ketua UPPB yang ada di Kecamatan Marang kayu.

Dalam pertemuan yang dilaksanakan pada 2 mei 2019 tersebut dihadiri dan dibuka oleh Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Kab. Kutai Karetanegara  Hamdani, SE. M.Si yang juga sebagai narasumber pada kegiatan tersebut, pada sambutannya beliau menyampaikan agar petani dapat menerapkan standar pengolahan yang sesuai dengan pedoman pengolahan dan pemasaran Bahan Olahan Karet (Bokar) juga pentingnya membentuk UPPB atau Unit pengolahan dan Pemasaran Mutu Bokar sehingga petani karet dapat mengolah dan memasarkan Bokarnya sendiri. Pada kesempatan tersebut Hamdani juga menyampaikan agar petani karet khususnya yang ada di Kecamatan Marang kayu untuk tidak beralih komoditi dikarenakan Kecamatan Marang Kayu merupakan salah satu sentra karet yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Pertemuan teknis pengolahan karet ini juga menghadirkan narasumber dari Kepala Seksi Pengolahan pascapanen Disbun Prov. Kaltim, PT. Multi Kusuma cemerlang (Pabrik Pengolahan Karet) dan Edy Santoso penangkar karet dari pembibitan Eza Nursery.

Dalam pertemuan ini juga dibagikan bantuan peralatan pascapanen Karet yang terdiri dari Pisau sadap, Mangkok sadap, Ring sadap, talang sadap, Saringan latek, bak pembeku dan bahan pembeku

Hamdani juga mengharapkan, kepada kelompok tani penerima bantuan tersebut dapat  memperdayakan dan memacu semangat pekebun agar pengolahan pasca panen karet (lateks) menjadi lebih berkualitas sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Penngolahan dan Pemasaran Bokar, sehingga diperlukan pembinaan penerapan jaminan mutu di tingkat Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB), sehingga bokar yang dihasilkan dan diperdagangkan memenuhi standar yang dipersyaratkan.

“Diharapkan melalui pertemuan teknis ini, petani mampu meningkatkan kualitas bokar bersih yang memenuhi baku mutu sesuai dengan standard yang berpedoman pada SNI 06-2047 (standard bahan olah karet) dan nilai tambah yang diperoleh turut meningkat sehingga petani karet menjadi sejahtera. Selain itu, agar UPPB di kabupaten/kota segera dibentuk. (alsin)

Dalam sambutannya diharapkan petani karet dapat menerapkan standar pengolahan yang sesuai dengan pedoman pengolahan dan pemasaran bahan Olahan Karet yang sesuai sehingga dapat meningkatkan nilai jual karet ditingkat petani.

Disampaikan juga pentingnya untuk membentuk UPPB ( Unit pengolahan dan Pemasaran Mutu Bokar) sehingga diharapkan dapat memutus mata rantai tengkulak sehingga petani dapat mengolah dan memasarkan bokarnya sendiri.

Petani Karet yang ada di Kecamatan Marang Kayu khususnya di Desa Prangat Selatan diharapkan tidak beralih kekomotiti lain dan tetap mempertahankan Komoditi Karet karena Kecamatan marang kayu merupakan salah satu sentra Karet yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kegiatan Pertemuan Teknis ini juga menghadirkan beberapa Nara Sumber diantaranya dari Kepala seksi Pengolahan Pasca Panen , Dari PT. Multi Kusuma Cemerlang (Pabrik Pengolah Karet) dan bapak Edy Santoso Penangkar Karet dari Pembibitan Eza Nursery .

Diharapkan petani dapat mengelola hasil panen sesuai dengan standar Mutu Bahan Olahan Karet sehingga memiliki nilai jual karet yang tinggi.

Pertemuan teknis ini kemudian dilanjutkan dengan praktek lapang tentang cara-cara teknik penyadapan sampai ke pasca panen.

Semoga dengan dilaksanakannya Pertemuan teknis ini dapat meningkatkan pengetahuan petani sehingga dapat menghasilkan standar Mutu Bokar yang sesuai SNI.

Sumber: Bidang Produksi

*Penilaian Anda Click here

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *