Penanganan dan Pencegahan Penyakit Jamur Akar Putih (JAP)/Rigidoporus Lignosus, dengan sistem PHT pada Tanaman Karet

Pendahuluan
Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) disebabkan oleh Rigidoporus Lignosus merupakan salah satu penyakit karet yang penting, karena dapat menimbulkan kematian pada tanaman. Penyakit ini dapat menyerang tanaman karet di semua umur tanaman, mulai dari pem

Tanaman Karet

bibitan sampai tanaman tua, tetapi umumnya penyakit ini timbul pada kebun-kebun muda.  Gejala serangan mulai tampak pada tanaman yang berumur 2 tahun dan infeksi baru mulai berkurng pada tahun ke-5 atau ke-6. Jamur akar putih menular melalui kontak tanaman sehat dengan tanaman sakit, serta melalui rizomorf yang menjalar bebas dalam tanah.

Gejala Penyakit JAP
Tanaman yang terserang penyakit JAP mula-mula daun terlihat kusam, kurang mengkilat dan melengkung kebawah, kemudian daun menguning dan rontok. Pada tanaman mulai berumur 4 tahun disertai mati ranting, sehingga tajuk pohon jarang. Pohon sakit kadang, membentuk bunga dan buah sebelum waktunya. Akar-akar membusuk dan apabila perakarannya dibuka akan tampak rizomorf seperti benang-benang berwarna putih. Kemudian pohon yang terserang akan mudah rebah. Jamur bisa membentuk badan buah mirip seperti topi berwarna jingga kekuning-kuningan pada pada pangkal akar tanaman.

Pengamatan Penyakit
Pengamatan dilakukan pada seluruh tanaman  karet, apabila ditemukan tanaman yang menunjukkan gejala serangan, hitung jumlah tanaman yang sakit dan yang mati atau tumbang. Periksa akar tanaman disekitar tanaman yang sakit dengan cara menutup leher akar dengan seresah (mulsa), stelah 2-3 minggu diamati terlihat benang-benang putih menempel pada akarnya, maka tanaman tersebut terserang JAP, dan pengamatan dilakukan 3 bulan sekali, sejak tanaman berumur 6 bulan. Mengingat bahayanya penyakit JAP bila ditemuka

Jamur Akar Putih pada Tanaman Karet

n tanaman terserang maka harus segara dilakukan pengendalian/pencegahan.

Ada 3 tingkatan serangan JAP berdasarkan serangan pada akar :

 

  • Ringan : bila rizomorf yang berwarna putih baru melekat pada permukaan kulit akar.
  • Sedang : bila kulit akar telah membusuk.
  • Berat : bila kulit kayu dan akar sudah membusuk.

Bagaimana pencegahan atau  pengendaliannya ?
Pada dasarnya pencegahan dan pengendalian JAP dapat dilakukan dengan membersihkan sumber infeksi  dan mencegah meluasnya penyakit.
Kegiatan ini dilakukan pada areal pertanaman baru maupun areal pertanaman yang sudah terserang, antara lain :

  • Kultur TeknisDengan membersihkan sisa tanaman (tunggul) dengan cara mekanis atau peracunan dan dengan cara menanam tanaman antagonis seperti : lidah mertua, kunyit, lengkuas, kencur, lempuyang, sambiloto dll, tanaman antagonis adalah tanaman yang ada disekitar kita dapat digunakan sebagai pencegahan/pengendalian JAP.
  • BiologiPemberian Jamur Trichoderma Koningii ( yang merupakan cendawan antaginis patogen  JAP) di sekitar tanaman dengan dosis  :a. 50 gram untuk bibit/polibagb. 100 gram untuk tanaman 2-4 tahun/pohonc. 200 gram untuk tanaman diatas 4 tahun.

Bila pH tanah lebih dari 5 maka ditambahkan belerang, yang dapat membunuh patogen dan sesuai untuk perkembangan  musuh alaminya dengan dosis :

~ TBM : 100 gram Trichoderma Koningii + 50 gram belerang

~ TBM : 100 gram Trichoderma Koningii + 100 gram belerang

1. Cara aplikasi atau penyebaran jamur Trichoderma sp :

  • Membersihkan disekitar pangkal batang karet/akar
  • Gali tanah disekitar batang/akar kurang lebih 5cm dan setelah itu taburi dengan pupuk kandang agara permukaan tanah gembur.
  • Taburkan jamur Trichoderma koningii sesuai dengan anjuran.
  • Permukaan tanah yang ditaburi jamur tersebut ditutup dengan mulsa seperti sisa dedaunan yang mengering agar kelembaban tanah terjaga.
  • Lakukan setiap 3 bulan sekali penyebaran jamur Trichoderma koningii.
  • Jamur akan berfungsi apabila di tingkat lapangan apabila terlihat tumbuh jamur berwarna kehijauan dipermukaan tanah dekat perakaran tanaman.

2. Syarat penggunaan Jamur Trichoderma sp :

  • Awal aplikasi di tingkat lapang perlu melihat kondisi iklim dimana penggunaannya pada awal musim penghujan dan jangan dilakukan pada musim panas.
  • Pada saat menggunakan jamur trichoderma sp untuk pencegahan atau pengendalian JAP. Jangan melakukan pengendalian gulma/rumput menggunakan herbisida atau pengendalian hama lainnya menggunakan pestisida sebab jamur trichoderma sp ini tidak akan berfungsi atau mati.
  • Jamur trichoderma yang ditaburkan di permukaan tanah dekat perakaran tanaman tidak boleh langsung terkena cahaya matahari atau perlakuan pada area terbuka yang terkenan langsung sinar matahari menyebabkan kematian pada jamur ini.

3. Cara penyimpanan jamur Trichoderma sp :

  • Daya tahan simpan jamur ini berkisar ≤ 3 bulan setelah dibuatkan dalam bentuk padat.
  • Tempat penyimpanan perlu diperhatikan antara lain : gudang penyimpanan harus bersih, tidak terkena langsung dengan sinar matahari, ventilasi udara baik sehingga kelembaban terjaga dan tidak terkena tetesan air hujan.
  • Karung yang terbuka harus dipergunakan langsung sebab apabila sudah terbuka disimpan maka jamur tersebut sudah terkontaminasi dengan jamur yang lain dan tidak berfungsi lagi sebagai jamur antagonis.
  • Penyimpanan kemasan yang berisi jamur jangan ditumpuk tinggi sebab akan merubah kondisi kelembapan didalam kemasan dapat meyebabkan kematian pada jamur trichoderma sp yang diharapkan.

Sumber :
#Direktorat Perlindungan Perkebunan (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian)
#UPTD Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan (Disbun Prov. Kalimantan Timur), Samarinda-Kaltim.

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *