Nilam,Tanaman Semusim yang Menjanjikan (Bagian I)

Tanaman Nilam di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggrong Seberang

Tenggarong, Budidaya nilam di Kabupaten Kutai Kartanegara kembali menggeliat seiring dengan permintaan pasar yang mulai meningkat. Di Kabupaten Kutai kartanegara nilam mulai dikembangkan kembali pada tahun 2016 di Kecamatan Tenggarong Seberang. Tersebar di beberapa Desa, yaitu Desa Bangun Rejo, Desa Kerta Buana, Desa Manunggal Jaya, dan Desa Bukit Pariaman dengan luas mencapai 22,5 Hektar. Pada tahun 2017 produksi nilam basah mencapai 67,5 Ton dengan harga 1.500 Rupiah /Kg, sedangkan untuk untuk minyak nilam berfluktuasi antara Rp. 600.000 – Rp. 800.000,- .

Minyak nilam dihasilkan oleh Pogostemon cablin Benth.  Di perdagangan internasional, nilam dijual dengan nama Patchouli oil. Dari berbagai macam minyak atsiri, minyak nilam adalah yang menjadi primadona di Indonesia. Sebelum Perang Dunia II,  Indonesia mampu menghasilkan 80-90% minyak nilam yang hampir memenuhi kebutuhan dunia. Lebih dari 80% produksi minyak nilam berasal dari Daerah Istimewa Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, yang sebagian besar hasilnya diekspor ke luar negeri. Daerah lain yang menghasilkan minyak nilam adalah Bengkulu, Lmpung, dan beberapa daerah di Jawa.  Menurut kabarnya dahulu sewaktu Indonesia masih dijajah Belanda, daun daripada minyak nilam dijadikan parfum di Eropa. Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) ini sendiri, masuk ke Indonesia pada tahun 1895. Daerah lain yang mengembangkan minyak nilam adalah Jambi, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. Sebagai akibat fluktuasi di perdagangan, minyak nilam ikut berubah-ubah pula harganya. Tapi, secara ekonomis, usaha minyak nilam menguntungkan.

Tanaman nilam berupa semak yang dapat tumbuh hingga ketinggian 1 meter. Tanaman nilam menyukai tempat yang bersuasana teduh, hangat dan juga lembab. Karena harga minyak nilam lebih tinggi dibandingkan minyak atsiri, kini banyak orang yang mencoba peruntungan dengan melakukan budidaya tanaman nilam ini

Tanaman nilam dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki ketinggian sekitar 10-700 mdpl namun jika lebih tanaman ini masih toleran namun tidak tumbuh optimal. Daerah yang akan digunakan untuk membudidayaan tanaman ini harus memiliki suhu sekitar 22°C – 28°C dengan curah hujan sekitar 2500-3500 mm/tahun, kelembaban sekitar 75%. Tanaman nilam dapat ditanam diberbagai jenis tanah, namun disarankan tanah yang gembur, subur, dan kaya akan humus dengan derajat keasaman atau pH sekitar 5,5-6,5.

Minyak nilam dipakai untuk menghambat perkembangan jamur dan mikroba, minyak rambut, anti jerawat, obat eksim, dan anti-jamur. Penggunaan minyak nilam yang dicampur dalam sampo herbal juga berguna dalam menyembuhkan ketombe. Untuk melindungi pakaian wol atau sutra dari ngengat, dan semut. Di Eropa dan Amerika, karena sifat nilam yang mengikat, bisa dipakai sebagai parfum. Air rebusan daun nilam pun bisa juga diminum untuk mengobati obat batuk dan asma. Rebusan daun juga bermanfaat untuk bisul. Akarnya dipakai untuk mengobati rematik. Daun nilam pun dipakai untuk menyedapkan makanan.

Menurut penelitian ilmiah, senyawa α-bulnesene dalam minyak nilam mempunyai manfaat untuk anti-peradangan. Patchoulol dan α-patchoulene dipakai pula untuk anti-jamur. Selain itu pula, minyak nilam pun juga bermanfaat sebagai antidioksida. Selain itu pula, tumbuhan ini juga toksik dengan Aedes aegypty.(Inp). 

(Dirangkum dari berbagia sumber)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *