KEJAYAAN LADA KUKAR, BISAKAH KITA KEMBALIKAN?

PRODUKSI lada di provinsi Kaliman Timur  sebagian besar digunakan untuk keperluan dalam negeri . Dan salah satu penghasil Lada terbesar adalah Kabupaten Kutai Kartanegara. Tepatnya di desa Batuah, kecamatan Loa Janan.  Dalam perdagangan nasional , volume hasil  lada di Kabupaten Kukar cenderung menurun karena berbagai sebab, diantaranya akibat kebakaran lahan, alih fungsi lahan ke sektor pertambangan dan konversi komoditi  pertanian lainnya, faktor lain juga akibat kalah bersaing dengan lada dari luar daerah (Lampung dan Bangka) dan luar negeri seperti  lada Vietnam.

Produksi lada di kabupaten Kukar  hingga tahun 2017 sebesar  3,587 ton atau 51% dari total produksi Lada provinsi Kaltim, dengan pangsa pasarregional dan nasional. Posisi  Kutai Kartanegara sebagai produsen  terbesar di Kalimantan Timur dari sisi luasan yaitu  4,535 ha, atau  47% dari luasan tanaman lada se Kalimantan Timur yang  berjumlah 9.699  ha. Dari tingkat produktivitas, komoditi  Lada Kabupaten Kukar diposisi teratas  baik ditingkat provinsi Kalimantan Timur maupun di tingkat nasional, yaitu rata-rata 1 ton/ha. Potensi besar ini seharusnya mampu dipertahankan oleh seluruh unsur yang terlibat.

 

Program Penurunan Tingkat Kemiskinan melalui usaha budidaya Lada.

Peluang peningkatan lapangan kerja disektor pertanian/perkebunan di Kabupaten Kukar sangat besar, diantaranya peluang menjadi petani lada. Serapan tenaga kerja di lahan budidaya lada hingga tahun 2017 sebesar  2,362 orang, atau 26% dari jumlah petani lada ditingkat provinsi yang mencapai 9.051 orang. Hal ini berarti setiap petani tanaman Lada di Kabupaten Kukar memiliki rata-rata luas lahan 2 ha. Melihat potensi ini diperkirakan masih berpeluang dalam penyerapan tenaga kerja baru.

Ketertarikan usaha disektor pertanian/perkebunan tidak lepas dari kondisi harga pasar, harga komoditi Lada putih di Kabupaten Kukar mengalami fluktuatif yang di pengaruhi permintaan pasar. Namun beberapa tahun terakhir harga lada mengalami kenaikan cukup signifikan sehingga mempengaruhi gairah petani. Di tahun  2017 saja harga lada putih ditingkat produsen sebesar Rp.115.000 – Rp.120.000 per kg. Peningkatan harga ini otomatis mempengaruhi pendapatan petani lada itu sendiri.

Masa kejayaan Lada di Kabupaten Kukar

Lada (Piper nigrum L.) atau sahang merupakan salah satu komoditas perkebunan andalan  Kab Kukar yang memegang peran strategis dalam perekonomian masyarakat di wilayah ini. Sejak zaman Hindia Belanda lada sudah menyebar di Kutai dan merupakan salah satu daerah sentra pembudidayaan lada di Asia Tenggara. Jenis tanaman lada ini oleh masyarakat setempat disebut varietas lokal, yang mempunyai ciri khas dapat berbuah hampir sepanjang tahun. Lada mulai ditanam di daerah Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara pada era tahun 1960-1970 bersama dengan proyek jalan Kalimantan (perlintasan jalan Samarinda-Balikpapan). Di daerah tersebut lada mulai ditanam secara intensif oleh kaum pendatang, orang Bugis yang datang dari Sulawesi Selatan. Asal-usul lada lokal tersebut sampai saat ini belum secara jelas diketahui. Namun, dari penuturan para sesepuh kampung di Muara Badak, konon sejak nenek moyang mereka bermukim sudah ada lada. Populasi lada yang ada di Kutai diduga dibawa oleh pedagang Arab bersamaan dengan penyebaran lada di Sumatra dan Jawa (Purseglove,1982). Walupun data tidak begitu banyak mendukung, namun beberpa petani senior di daerah Loa Janan menyatakan bahwa di era 1990-2000 adalah masa kejayaan petani Lada di Kabupaten Kukar. Pada masa itu petani mendapat penghasilan lebih tinggi dari petani komoditas lainnya. Harga Lada disaat itu berkisar Rp.30.000/kg. Pada tahun 2007, 2008 dan 2009 Lada Kukar masih sangat dikenal oleh pasar dalam dan luar negeri. Disaat itu luasan lahan hingga mencapai 10.409 ha dan menghasilkan lada putih sebesar  7.975 ton dan produktivitasnya mencapai 1.5 ton/ha. Penyerapan tenaga kerja pun lumayan tinggi, yaitu 4.200 orang, dan rata-rata setiap petani memiliki  lahan 2 ha.

Varietas Unggul Nasional Malonan I asal Kabupaten Kutai Kartanegara.

Saat ini dikenal lada lokal Kalimantan Timur (lada Malonan 1), banyak dibudidayakan di Loa janan, terutama desa Batuah, mulai dari km 17 sampai km 33. Lada yang berkembang di desa Batuah, kecamatan Loa janan, Kabupaten KutaiKartanegara (dulu Kab. Kutai), mulai ditanam pada tahun  1976 oleh seorang petani bernama Wahab Ukas. Pria asal Bone, Sulawesi Selatan, menanam lada di dusun Karya Makmur, Desa Batuah yang kala itu penduduknya masih jarang. Benih lada yang digunakan berasal dari Muara Badak yang dibawa oleh keluarganya.  Sejak saat itu, lada Malonan 1 terus berkembang di Loa Janan, bahkan menyebar ke daerah sekitar Loa Janan, seperti Samboja dan daerah lain di Kab. Penajam Paser Utara, seperti Sepaku dan Semoi.

Komponen Mutu Lada Malonan 1; Kadar minyak Atsiri antara 2,35 – 2,90 % . Kadar Piperin 3,18 -3,96 % Kadar Oleoresin 11,23 – 15,60 %, Rata-rata produksi lada putih 2,17 ton/ha/tj dan produksi sepanjang tahun

Upaya mengembalikan Kejayaan Lada di Kabupaten Kukar.

Banyak pertanyaan dari berbagai fihak, apakah Kabupaten Kukar mampu mengembalikan masa kejayaan Lada seperti era 90-2000an?? Sebagai penggerak roda pembangunan perkebunan di Kabupaten Kukar, Dinas perkebunan Kabupaten Kutai Kartanegara masih optimis untuk berupaya mewujudkan harapan tersebut. Beberapa hal yang masih diperjuangkan adalah regulasi terkait kawasan perkebunan, khususnya penetapan kawasan budidaya tanaman lada di Kabupaten Kukar. Apabila regulasi ini terwujud maka satu langkah telah kita lewati untuk upaya pengembalian kejayaan komoditas Lada di Kabupaten Kukar tersebut.  Perlindungan lahan-lahan perkebunan lada sangat penting dimasa sekarang ini, untuk menghindari degradasi lahan kebun lada, akibat alih fungsi ke sektor pertambangan batubara dan konversi ke komoditas lainnya. Program intensifikasi komoditas lada ini juga masih terus dilanjutkan setiap tahun, sehingga mampu memotivasi petani lada agar tetap berusaha di lahan milik mereka.

Semoga kejayaan Lada di Kabupaten Kukar bisa kita wujudkan kembali

Tenggarong, 13 mei 2018

Penulis : NA

Refferensi :

  1. Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017, LADA, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian,2016.
  2. Statistik Dinas Perkebunan KabupatenKutai Kartanegara, 2017

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *